Aku kehilangan sisi dirimu yang satu lagi
ruang untuk cerita yang belum sempat diceritakan
Yang disimpan
sendiri,
boleh di sini.
Tulis apa yang selama ini kamu pendam. Tanpa nama, tanpa jejak. Mungkin seseorang di sini pernah merasakan hal yang sama.
Ceritakan rahasiamu →01 / cerita dari ruang ini
Dibaca oleh
orang-orang yang mengerti.
Semua cerita di sini anonim.
Komentar dijaga tetap hangat.
Aku sering merindukan rumah, tapi setiap kali pulang rasanya seperti sedang bertamu.
Semua orang bilang aku sudah jauh lebih baik. Aku ingin percaya itu, tapi hari ini rasanya tidak.
Aku akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan yang kubenci. Belum tahu setelah ini apa, tapi untuk pertama kalinya aku bernapas lega.
Aku masih menyimpan nomor teleponnya. Bukan untuk menghubungi, hanya untuk merasa ia masih sedikit dekat.
Aku mencintai keluargaku. Aku juga lelah harus selalu menjadi orang yang paling kuat di antara kami.
Guys, mau curhat sekalian minta saran. Jadi di kantor tuh kerjaan numpuk semua ke aku, tapi pas ada bonus atau pujian yang kebagian malah tim sebelah. Atasan gak pernah mau denger penjelasan, tiap aku ngomong selalu dipotong. Mau resign takut susah cari kerja baru, mau bertahan tiap hari makin capek. Kalau kalian di posisi aku, bakal milih gimana? Bener-bener buntu.
Waktu SD, uang kas kelas ilang. Bu guru langsung nunjuk aku, katanya karena aku sering bolos. Padahal yang ngambil anak pak lurah. Aku disuruh berdiri di depan sampai bel. Gak bisa ngelawan, cuma bisa nyengir sambil naruh cicak di laci dia diam-diam. Sampai sekarang masih kebayang mukanya.
Aku masih ingat jelas kejadian itu. Aku gak pernah melupakannya karena aku masih merasa kaget dan kesal. Aku sedang menyeberangi jalan malam itu, aku sendirian dan mengenakan pakaian yang sangat terang. Ketika aku melihat di belakangku, aku melihat seekor kucing yang tergantung di atas pagar. Aku berpikir itu hanya seekor kucing biasa, tapi ketika aku mendekat, aku melihat kucing itu menunjukkan mulut yang penuh dengan gigi tajam. Aku berusaha untuk berlari, tapi kaki ku gak bisa bergerak. Kucing itu berbicara dengan suara yang sangat halus, "Aku akan makanmu." Aku gak bisa berbicara, hanya menggigit lidahku. Kucing itu semakin mendekat, aku merasa panik. Aku berusaha untuk berlari, tapi kaki ku gak bisa bergerak. Saya hanya bisa menunggu sampai kucing itu menemukanku.
Mengingat hari-hari yang berlalu, ketika aku masih muda dan berani. Aku masih ingat ketika aku terjebak dalam kasus penipuan yang membuat aku kehilangan uang dan barang. Tapi, aku tidak menyerah. 6 tahun pun lewat Aku akhirnya menemukan identitasnya, seorang yang ternyata masih hidup di daerah pinggiran. Aku memutuskan untuk mengunjunginya dan membalas dendam. Aku datang ke rumahnya, melihat keadaannya yang kotor dan berantakan. Aku melihat matahari pagi yang menerangi wajahnya yang sombong. Aku mengambil kunci mobilnya dan memulai perjalanan. Sekarang, dia yang harus terjebak dalam keterpurukan seperti aku dulunya.
Maafin aku gak bisa lupa sama kisah itu. Dulu, aku masih remaja, aku terpaksa menanggung tanggung jawab gede karena ayahku yang meninggal tiba-tiba. Aku gak bisa melanjutkan sekolah lagi, harus kerja di rumah makan untuk nafkah keluarga. Suatu hari, bosku datang ke rumah makan kami dan curang dengan memesan makanan yang mahal, lalu bilang aku harus membayar biaya ganti rugi yang tidak masuk akal. Aku gak bisa melawan, tapi aku kenal bosku yang suka kekayaan. Hingga aku bisa naik hukumnya dengan mengembangkan bisnis sendiri, lalu aku membeli rumah makan miliknya. Dari situlah aku bisa menimpuknya.
Dulu, aku masih duduk di bangku SMP. Aku punya teman yang gak bisa aku percaya, dia sering mengambil uangku dari dompetku tanpa izin. Aku gak bisa balas dendam saat itu karena aku masih kecil dan tidak bisa melindungi diri sendiri. Aku hanya bisa diam menangis di sampingnya. Tapi aku tidak lupa, aku akan menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. Sekarang aku sudah dewasa, aku dapat membalas dendam dengan cara yang tepat.
Tidak ada yang tahu kalau aku sebenarnya tidak punya rencana. Aku hanya pandai terlihat seperti tahu arah.